Skip to main content

Para Pelacur Kebudayaan




Kekerasan lewat kebudayaan jauh lebih mengerikan ketimbang tindakan fisik. Sebagaimana telah dilakukan para seniman maupun budayawan Indonesia yang secara tidak langsung melacurkan diri untuk sebuah kepentingan Amerika Serikat. 

Pasca pembantaian 1965-1966, kebudayaan menjadi produk yang efektif untuk melanggengkan ideologi anti-komunis. Itu sebabnya bagi sebagian masyarakat, membunuh orang komunis merupakan suatu kewajaran bahkan telah menjadi keharusan. Karena anggapan itu pula, masyarakat kini mengidap penyakit ketakutan yang parah soal komunisme.

Inilah bukti bahwa kekerasan lewat kebudayaan jauh lebih mengerikan ketimbang tindakan fisik. Karena telah membekas hingga berpuluh tahun dan tidak tahu kapan akan berakhir. Seperti yang dilakukan sekelompok orang yang mengatasnamakan Manifesto Kebudayaan.

Melalui buku Kekerasan Budaya Pasca 1965 karya Wijaya Herlambang, kita bisa mengetahui sesungguhnya pendirian Manifesto Kebudayaan  tidaklah murni untuk kebudayaan, melainkan dibentuk untuk memberangus paham komunisme di Indonesia. Tanpa disadari hadirnya Manifesto Kebudayaan pun telah menjadi bagian politik Amerika Serikat. 

Dalam bukunya, Wijaya menunjukkan keberadaan suatu lembaga bernama Congress for Cultural Freedom (CCF) yang merupakan hasil bentukan CIA pada tahun 1950 dengan maksud sebagai aksi rahasia untuk menciptakan dasar filosofis bagi para intelektual untuk mempromosikan kapitalisme Barat dan anti-komunisme.

CCF sendiri sebenarnya ditempatkan di bawah kendali Office of Policy Coordination (OPC) yang diketuai oleh Frank Wisner, seorang pejabat CIA yang terlibat dalam perencaaan pemberontakan Perdjoeangan Rakjat Semesta  tahun 1957-1958. Dari CCF itulah dibentuk yayasan Obor internasional yang diketuai Ivan Kats, seorang perwakilan CCF untuk Program Asia. 

Yayasan Obor internasional (Obor Incorporated) yang berkedudukan di New York inilah yang menjadi induk dari yayasan Obor Indonesia yang diketuai Mochtar Lubis. Melalui yayasan tersebut, ide-ide yang ‘secara filosofis’ mempromosikan kapitalisme Barat dan sikap anti-komunisme pun disemai.

Lewat Ivan Kats juga, Mochtar Lubis memperoleh banyak karya yang disponsori CCF dengan gagasan liberalisme seperti majalah, pamflet, dan karya sastra. Misalnya karya-karya penulis anti-komunis seperti Albert Camus dan Miguel de Unamuno. 

Bahkan, Wijaya menuturkan, kedekatan hubungan tersebut berlanjut hingga generasi setelahnya, yakni ‘Goenawan Mohammad’ yang  pada saa itu kelak menjadi salah seorang tokoh paling berpengaruh dalam mengokohkan liberalisme barat dalam kebudayaan kontemporer Indonesia. Penulis Catatan Pinggir Majalah Tempo tersebut mengakui bahwa pada masa itu mereka sangat antusias untuk mencari, mengumpulkan dan membaca buku-buku CCF dan juga menjualnya ke kalangan yang lebih luas.

Wijaya juga memaparkan hasil penelitiannya bahwa tak dapat diragukan CCF melalui program kebudayaan dan pandangan Ideologinya berperan penting dalam membangun dan mensponsori pandangan anti-komunisme di arena kebudayaan Indonesia. CCF menawarkan program beasiswa kepada para Intelektual muda seperti Goenawan Muhammad dan Arief Budiman, untuk belajar di Eropa. 

Menariknya, program ini secara kebetulan dilaksanakan ditengah-tengah kemelut politik yang memuncak pada saat tragedi pembantaian komunis di Indonesia tahun 1965-1966. Program beasiswa tersebut menurut Arief Budiman adalah bagian dari upaya CCF untuk mengasosiasikan intelektual muda dengan organisasi anti-komunis. Sedangkan Goenawan Muhammad alasan dirinya pergi belajar ke Eropa karena mengungsi dari situasi politik di Indonesia di tahun 1965.

Dengan demikian, ada catatan penting untuk diingat bahwa deklarasi Manifesto Kebudayaan 1963 merupakan hasil konspirasi antara para penulis sayap kanan dengan para pendukung asing yakni CCF yang didukung oleh CIA. 

Hasilnya bisa kita lihat pasca dihancurkannya PKI beserta organisasi-organisasi yang berafiliasi dengannya seperti Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Goenawan Mohammad hingga hari ini tidak pernah merubah pandangan kebudayaannya. Ia juga sukses dalam memelihara pandangan liberalism Baratnya dengan cara memperkuat jaringan jaringan kebudayaan dan filantrofinya dengan institusi-institusi Barat. 

Aktivis boemipoetra Saut Situmorang dkk dan Taufiq Ismail menganggap Goenawan Mohammad dan Komunitas Utan Kayu sebagai satu ‘broker’ imperialisme kebudayaan Barat yang paling berpengaruh di Indonesia. Pada saat yang sama, boemipoetra juga menjadikan sosok Taufiq Ismail sebagai sasaran kritiknya, karena seperti halnya Goenawan Mohammad, Taufiq Ismail juga adalah salah satu penerima bantuan keuangan terbesar dari barat dan salah satu agen kebudayaan terpenting dalam Orde Baru. Selaindari Ford Foundation, Taufiq Ismail juga menerima dukungan dana dari pemerintah Orde Baru bagi kegiatan kebudayaannya di Horison.

Karya Wijaya Herlambang ini sangat menarik dibaca untuk menambah pengetahuan kita tentang kekerasan budaya yang terjadi pasca 1965. Buku berdasarkan tesis doktoral di Universitas Quensland Australia ini memaparkan bagaimana kebudayaan dijadikan sebagai alat untuk membenarkan pembantaian kemanusiaan yang digagas orang-orang yang menamakan diri pendukung humanisme universal. 

Kita bisa banyak belajar dari buku ini, bagaimana kekerasan tak melulu soal fisik dan pembunuhan. Kekerasan bisa lebih mengerikan lewat kebudayaan karena membenarkan pembantaian berjuta umat manusia menjadi lumrah dan lazim.  

Buku ini menganalisis upaya pemerintahan Orde Baru beserta agen-agen kebudayaannya dalam memanfaatkan produk-produk budaya untuk melegitimasi pembantaian 1965-1966. Dengan bukti-bukti empiris ditujukkan bahwa intervensi langsung CIA kepada para penulis dan budayawan liberal Indonesia untuk membentuk ideologi anti-komunisme bukanlah isapan jempol belaka.

Buku ini juga memuat kritik kepada para pegiat seni dan sastra soal kekerasan kebudayaan itu. Apakah mereka yang mengaku seniman atau sastrawan tersebut melakukan perlawanan untuk menghapus ideologi anti-komunis yang sudah ditanamkan penguasa Orde Baru berpuluh tahun itu atau malah sebaliknya?



  • Judul   : Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme   Melalui Sastra dan Film
  • Penulis : Wijaya Herlambang
  • Penerbit    : Marjin Kiri
  • Terbit : November 2013
  • Hal.         : 334 halaman.


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Surat Terbuka untuk Penulis dan Pembaca Mahasiswa Bicara

Kemarin, 4 Maret 2016, kami seluruh awak Mahasiswa Bicara merayakan sebuah perayaan kecil-kecilan. Disebut perayaan kecil-kecilan karena hanya bisa menyajikan kopi, rokok dan sedikit camilan. Kami merayakan usia Mahasiswa Bicara yang baru menginjak delapan bulan. Usia yang masih segar. Sebagaimana niat awal kami, MahasiswaBicara.com hadir sebagai tempat yang didedikasikan sepenuhnya untuk anda para penulis, komunitas, dan tentu saja bagi para pembaca. Niat tulus Ibil Ar Rambany, Erika Hidayanti dan Kemal Fuadi adalah modal yang paling berharga bagi perkembangan media ini. Tidak perlu memakai teori Plato tentang idea-idea dalam meyakinkan ketiga rekan saya untuk terlibat di Mahasiswa Bicara. Cukup dengan kepedulian dan kegelisahan bersama akan hadirnya ruang bagi para mahasiswa untuk menuangkan ide sudah menjadi tawaran yang patut. Sebut saja Ibil yang saya dapuk sebagai pemimpin redaksi adalah lelaki pekerja keras. Pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah ini harus membagi waktu a...

Jombloo.co: Progresif, Militan dan Tinggal Kenangan

Awal tahun lalu mungkin menjadi awal bagi keempat rekan saya kembali tersenyum lebar. Senyum yang (mungkin) dulu pernah dirasakan, terulang kembali hari itu. Mungkin hari itu juga keempat rekan saya kembali menggenggam sebotol bir dan saling menuangkan satu sama lain. Entah pada botol yang ke berapa mereka mulai meracau. Entah pada pukul berapa pula mereka saling melepas tawa. Yang jelas, hari itu adalah hari yang saya duga sebagai hari kebahagiaan bagi mereka. Hari dimana sebuah situs jombloo.co lahir dan benar-benar menjadi situs yang mewakili teriakan hari mereka. Saya nggak perlu menjelaskan siapa saja keempat rekan saya itu. Karena tulisan ini diperuntukkan bagi para pembaca jombloo.co. Kalau Anda bukan pembaca jombloo.co, silakan kunjungi saja dulu situsnya. Itu pun kalau masih bisa diakses. Kalau tidak, ya resiko Anda kenapa baru dengar jombloo.co sekarang. Atau baca saja dulu tulisan ini mudah-mudahan saya berubah pikiran. Perkenalan saya dengan jombloo.co sangat singk...

Nahkoda Enggan Kehilangan Kapal

Menebak arah politik Golkar dari briefing rahasia Nurdin Halid yang bocor ke media. Beberapa jam sebelum Musyarah Nasional Partai Golkar di Bali menentukan Ketua Umum, para penentang Aburizal Bakrie seperti menemukan sebuah hulu ledak baru: rekaman briefing rahasia Nurdin Halid ke kalangan peserta Munas. Bagi Agung Gunandjar Sudarsa, politisi Golkar yang bergabung dengan barisan penentang Aburizal, rekaman itu memperpanjang bukti adanya rekayasa besar melanggengkan kekuasaan Aburizal Bakrie. “Kami akan laporkan kasus ini ke Kementrian Hukum,” katanya berharap pembelaan dari pemerintahan Presiden Joko Widodo. Berdurasi hampir dua jam, rekaman itu memuat penuturan Nurdin, Steering Committee Munas, seputar pengalamannya memenangkan kongres besar Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia di Bali. Singkat cerita, Nurdin ingin pengalaman itu jadi dasar pemenangan Aburizal. “Ini licik yah, licik,” katanya mendedahkan sejumlah strategi. Bagi Wakil Sekjen Golkar, Lalu Mara Satriaw...